Regroupement Familial: Cuma Mau Kumpul Keluarga, Nunggunya Setahun?


Assalamu’alaikum.

Bonjour! Salam dari kota Toulouse, Prancis, untuk para pembaca yang sedang menikmati libur tahun baru, semoga senantiasa dalam keadaan sehat berbahagia. Di penghujung tahun ini, saya ingin berbagi cerita tentang perjalanan yang cukup seru bagi saya dan suami untuk bisa berkumpul bersama di kota yang hangat ini. Anggaplah, satu tahun pernikahan kami jalani dengan kondisi yang tidak normal, Prancis - Indonesia, terpisah jarak kurang lebih 15.000 km dengan selisih waktu 5-6 jam setiap harinya. “Kenapa ga ikut suami dari awal nikah sih? Kok ga nyusul suami aja? Ga ikut ke Prancis sana?” Pertanyaan-pertanyaan demikian udah kenyang rasanya saya dapatkan. Jawaban saya ga jauh dari kalimat “insyaallah nyusul, ini masih proses, do’akan saja”. Lama ga ketemu, pas ketemu lagi, ditanya lagi “kok belum berangkat? kapan nyusul?” haha akhirnya saya tambahin dikit kalimatnya “insyaallah nyusul, ini masih proses, prosesnya agak lama, do’akan saja”. Yang awalnya pada merespon “wah asik mau ke Prancis! Kabar-kabar yaa kalo udah di sana! Jangan lupa sama kita-kita, sering-sering videocall” lama-lama jadi “yang sabar ya. Jangan stress. Gapapa, malah enak masih bisa deket keluarga” haha yaa memang seperti itu adanya. Lalu sebenarnya seperti apa prosesnya, kenapa bisa sampai 1 tahun lebih baru dapet visa, begini ceritanya, keep reading^^

Semua berawal dari keputusan akan menikah dan siap ikut suami ke Prancis di bulan Agustus 2018. Prosedur utamanya adalah dengan mengajukan Regroupement Familial (RF), sebuah prosedur yang memungkinkan seseorang berkebangsaan non-Eropa untuk bisa tinggal di Prancis secara legal,  bersama suami/istri/anak-anaknya dengan persyaratan tertentu, sesuai dengan kebijakan pemerintah Prancis. Kasus kami, saya dan suami sama-sama WNI dan suami saya bekerja, karena kalau pelajar prosesnya agak berbeda. Balik ke RF kasus saya, proses RF itu cukup lama, sekitar 8 bulan. Jangan tanya kenapa (minimal harus) 8 bulan ya, karena nampaknya hanya Tuhan dan pemerintah Prancis yang tau.

Cara menghindari RF (?)
Menunggu 8 bulan bagi pengantin baru terasa begitu lama, akhirnya kami berdua mulai cari jalan lain yang dirasa lebih cepat. Cara pertama kami yaitu dengan mendaftar sekolah untuk saya supaya dapat visa pelajar. Saya daftar di bulan Februari 2018 untuk tahun ajaran 2018/2019. Lah sekolah lagi?? Kala itu Tesis masih BAB 1, udah mau daftar sekolah lagi! Rencana kami: diterima sekolah, dapat visa pelajar, ke Prancis bareng suami bulan September 2018. Rencana Tuhan: ditolak sekolah. Di bulan September 2018 kami coba cara kedua, yaitu mengajukan visa jangka panjang >90 hari (long-stay visa) di TLS Contact Jakarta*, tanpa melampirkan dokumen RF. Rencana kami: dapat visa, bisa nyusul bulan Oktober 2018. Rencana Tuhan: visa ditolak, tentu saja dengan alasan penolakan tidak adanya dokumen RF dari OFII tersebut. Cara kedua ini sebaiknya jangan diikuti ya, waktu itu karena ego kami sedang tinggi dan kepedean tingkat dewa. Masih belum kapok, kami coba cara ketiga yaitu mengajukan visa jangka pendek <90hari (short-stay visa) di bulan Oktober 2018 dengan tujuan kunjungan keluarga dan kami diminta melampirkan Attestation d’Accueil* karena suami saya penduduk Prancis. Recana kami: dapat visa, mentok bisa hidup bareng 2 bulanan. Rencana Tuhan: visa ditolak di bulan November 2018. Alasan ditolak karena RF merupakan persyaratan utama bagi saya untuk mendapatkan visa ke Prancis, jadi tanpa RF udah pasti ditolak Kedutaan. Bagi pembaca yang ingin menghindari juga, boleh dicoba cara 1 dan 3 di atas, siapa tau langsung beruntung^^

Proses yang sesungguhnya dimulai
Baiklah, sudah 2 bulan pascamenikah, 2 kali mencoba peruntungan visa, 2 kali gagal, kami mulai sadar, Tuhan belum berkehendak. Maka kami mundur selangkah dan menata hati kembali, bersiap untuk proses RF yang harusnya sejak awal dicoba, bukan dihindari. We were dealing with it! 16 November 2018 adalah langkah awal proses RF, suami saya di Toulouse mulai mengumpulkan berkas dan mengajukannya ke OFII*. Berkas yang diajukan yaitu formulir pengajuan dan dokumen-dokumen yang butuh dilampirkan. Lebih lengkapnya bisa unduh di laman berikut Formulir RF, Dokumen RF, dan Kantor OFII.

Tahapan yang cukup panjang
Setelah diajukan, berkas akan diproses sekitar 8 bulan seperti yang saya singgung di awal, dengan tiga tahapan; (1) mendapatkan Attestation de Depot (AD), (2) survei tempat tinggal, dan (3) mendapatkan surat keputusan. Pertama, mendapatkan Attestation de Depot (AD), sebuah surat dari OFII - dikirim via pos- yang menyatakan bahwa berkas atas nama X telah terdaftar. Tampilannya seperti berikut.


Surat tersebut kami dapatkan bulan Maret 2019, berarti 4 bulan dari pengajuan 16 November 2018, hanya dikabari “berkas anda telah terdaftar” hehe menggelitik kesabaran banget ya? Tapi tetep seneng rasanya, berharap ini adalah awal yang baik insyaallah. Dalam surat tersebut juga diinfokan bahwa proses berikutnya adalah 6 bulan sampai keputusan diterima/ditolak, serta dilampirkan juga tahapan yang lebih detail dari rangkaian proses RF tersebut. Sembari berproses, saya kembali mendaftar kuliah di bulan Januari 2019 untuk tahun ajaran 2019/2020, dan kembali berharap jika diterima, saya dapet visa pelajar dan bisa ke Toulouse lebih awal. Kabar baiknya, di bulan April 2019, alhamdulillah saya diterima kuliah, tapi ternyata tidak bisa langsung bikin visa pelajar, baru bisa bulan Juli nanti. Akhirnya, nunggu lagi deh. Suami saya setiap hari selalu ngecek kotak surat di rumah dengan penuh harap, meski seringnya kosong atau dapet surat tapi isinya promosi produk haha. Tapi suatu hari di bulan Mei 2019, 2 bulan setelah mendapat AD, surat yang ditunggu pun datang. Isinya pemberitahuan akan dilakukan survei tempat tinggal oleh pegawai OFII. Seperti ini penampakan suratnya.




Yeay! One step closer insyaallah (padahal juga masih gatau), yang penting optimis. Tujuan dari survei ini adalah orang OFII mau ngecek hunian; diukur luas bangunannya dan dicek kondisi bangunannya apakah layak/tidak untuk ditinggali bareng keluarga. Sebagai tambahan informasi, uji kelayakan ini disesuaikan dengan jumlah orang yang akan RF, kalo ada anak-anak misalnya, maka luas dan kondisi bangunan perlu diperhitungkan. Setelah survei tersebut, Juni 2019 suami saya libur lebaran ke Indonesia dengan membawa kabar yang mengejutkan bahwa saya tidak bisa mengajukan visa pelajar Juli besok! Saya sedang proses RF jadi harus diselesaikan dulu, ga bisa tumpang tindih. Padahal udah berharap bisa berangkat lebih cepat. Tapi yasudahlah, kehendak Tuhan. Lagipula, memang sudah setengah jalan di proses RF ini, sabarlah dikit lagi.

Menunggu, menunggu, dan menunggu. Sampai pada akhirnya suatu hari di bulan Agustus 2019, 2 bulan pasca survei tempat tinggal, kotak surat rumah kembali didatangi sepucuk surat yang berisi pemberitahuan bahwa suami saya disetujui membawa istrinya ke Toulouse dan tinggal bersama secara legal! Allahu Akbar, alhamdulillah, entah rasanya saat itu bahagia, haru, deg-degan, bingung,  campur aduklah, tapi bersyukur luar biasa. Gini ternyata rasanya dapet bayaran “menunggu” dan inilah sepucuk surat yang membahagiakan itu.


Apply long-stay visa
Segera saya mengajukan long-stay visa kedua kalinya ke TLS Contact dengan lebih percaya diri melampirkan surat RF-OFII tersebut haha, kali ini dengan jasa Premium Lounge (akan saya bahas di artikel selanjutnya). Sesampainya di TLS Contact, saya baru ngeh kalo nama saya kelebihan S, Annisa jadi Annissa, orang OFII nya typo! Allahu Akbar, seketika pening kepala ini. Drama apa lagi ini? Udah 9 bulan penantian, haruskah diulang lagi? Udah mau marah rasanya. Saya telpon suami saya, hari itu juga suami saya langsung ke OFII buat laporan, padahal aplikasi visa udah masuk, kalo sampe visa ditolak gara-gara salah nama, gatau lagi mau gimana ni ekspresi muka, belum lagi awal September 2019 saya harus mengikuti placement test di kampus Toulouse

Seminggu menunggu, tidak ada notifikasi apa-apa terkait visa. Cepat-cepat saya kontak kampus di Toulouse, mengabarkan bahwa visa saya belum keluar dan bagaimana dengan placement test saya. Kampus mengabarkan bahwa akan ada penangguhan waktu tes, di tanggal 17 Oktober 2019. Alhamdulillah, lumayan melegakan, one problem solved. Dua minggu berikutnya, masih belum ada kabar, lalu saya minta tolong saudara saya yang kebetulan kantornya sebelahan dengan Kedutaan Prancis di Jakarta untuk nanyain ke Bagian Konsuler Visa; apa ada dokumen yang kurang kok 2 minggu belum ada kabar apa-apa. Katanya, masih diproses tunggu aja, memang long-stay visa biasanya diproses sebulanan. Karena diburu waktu, dua minggu berikutnya saya kembali minta tolong saudara saya ke Kedutaan, nanyain hal yang sama. Kali ini, ada kabar yang mengejutkan bahwa Kedutaan baru saja menerima surat pemberitahuan dan perbaikan nama dari Préfecture Toulouse 2 hari yang lalu, jadi aplikasi visa saya baru akan diproses. 


Surat perbaikan dikeluarkan 5 September 2019, sampai di Kedutaan Jakarta tanggal 25 September 2019. Terbayangkah anda, ternyata surat nya dikirim via Pos dari Prancis ke Indonesia, 20 hari baru sampai! Saya sempet heran, perasaan negara maju, email aja ga bisa apa haha kok harus pos banget. 

Saya pun menghela nafas. Ya Allah, ternyata terlalu bahagia juga melenakan sampai ngecek nama diri sendiri pun enggak saya lakukan. Memang betul, setelah ngobrol, saya dan suami baru sadar ternyata kesalahan nama sudah sejak surat pertama, yaitu AD. Kami hanya cek FEBRYANDINI saja, karena memang nama itu sering salah tulis. Ternyata, Annisa nya. Tapi alhamdulillah, pertolongan Tuhan selalu ada. Aplikasi visa saya memang tertahan sebulan di Kedutaan Prancis Jakarta, ga diapa-apain sampai surat perbaikan itu datang. Artinya, Kedutaan tidak serta merta menghentikan proses pengajuan visa saya. Masih baik saya tidak mengulang proses aplikasi dari awal kan. Sekali lagi, Masyaallah, Tuhan Maha Baik. Saudara saya bilang, ini nanti dalam 2 minggu ke depan akan didapat hasilnya. Dengan penuh harap, saya pun mulai nyicil nata-nata baju, bikin list kebutuhan yang mau dibawa, suami saya udah cek-cek tiket pesawat, meski belum tau visa bakal issued atau tidak.

Udah detik-detik kritis menunggu, 13 hari kemudian, saya dapat email dari TLS Contact bahwa Kedutaan meminta surat keterangan sehat dari dokter, jam 1 siang. Adaa aja yaa haha. Langsunglah saya meluncur ke RSUD, ternyata maksimal pelayanan surat sehat jam 12 siang. Tanpa pikir panjang, saya lari ke RS swasta Indriati Solo Baru, ternyata bikin surat berbahasa Inggris di RS tersebut butuh 3 hari, heu drama apa lagi ini. Sorenya saya ke RS swasta Dr. Oen Solo Baru dan alhamdulillah bisa jadi 1 jam suratnya. Sore itu juga saya scan dan kirim email ke TLS Contact Premium lalu besoknya diteruskan ke Kedutaan, berharap  Jumat 11 Oktober 2019 visa saya issued, karena saya hanya punya waktu 3 hari sebelum tes di Toulouse. 

I got my visa
Allah mengabulkan, Jumat 11 Oktober 2019 jam 2 siang ada info paspor saya udah kembali dari Kedutaan, langsung kakak ipar saya mengambilkan paspor tersebut dengan surat kuasa, dan alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, sudah tertempel visa jangka panjang-Regroupement Familial di halaman paspor saya. 



Langsunglah booking tiket saat itu juga, malamnya packing semampunya, tentu saja tidak tidur karena sabtu besok (banget) saya berangkat. Fiuhh, akhirnya.

Panjang ya? Iyalah cerita setahun hehe. November 2018 - Oktober 2019, 11 bulan sudah kami berproses mendapatkan Regroupement Familial. Bersyukur luar biasa. Saya dan suami ingin mengucapkan terima kasih banyak khususnya kepada keluarga kami, yang turut serta dengan ikhlas berjuang, membantu, mendo’akan, menghibur, mendukung, mendampingi, dan memeluk kami. Semoga Allah senantiasa membalas dengan balasan sebaik-baiknya, seindah-indahnya, sebanyak-banyaknya atas apa yang telah dilakukan untuk kami. Dua hal yang saya pelajari dari rangkaian perjalanan seru ini adalah SABAR dan SYUKUR. Tampak sangat sederhana teorinya, mungkin hapal di luar kepala, tapi subhanallah masih terseok-seok menjalaninya. Kami juga diingatkan, bahwa mungkin kami kurang mendekat dengan-Nya, barangkali sudah merasa dekat tapi kurang bersyukur, barangkali terlalu sibuk berusaha sedikit berdo’a. Kami perlu lebih hati-hati, lebih teliti, dan tidak menyepelekan sesuatu. Yang lebih penting lagi adalah selalu ingat janji-Nya "Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan" (Q.S. Al-Insyirah:6).

Baiklah, cukup sudah ngetik sambil nangis, pada akhirnya tulisan ini saya tujukan untuk berbagi pengalaman sekaligus memberikan informasi kepada para pembaca yang mungkin akan mengajukan RF sama seperti kami. Barangkali ada hal-hal dalam tulisan ini yang masih kurang jelas atau gatau arti bahasa Prancisnya, silahkan bertanya di kolom komentar, insyaallah akan saya jelaskan hehe

Terima kasih telah menyempatkan membaca, semoga informatif dan bermanfaat.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya ya^^

Wassalamu’alaikum.

*TLS Contact Jakarta: agen resmi pengajuan visa Prancis di bawah Kedutaan Prancis di Jakarta (TLS)
*Attestation d’Accueil: Sertifikat penerimaan (akomodasi) kunjungan selama di Prancis yang diajukan ke balai kota setempat (Service Public)
*OFII: bagian keimigrasian Prancis (OFII)

Komentar

  1. MasyaAllah perjuangannya... Barakallah ya Nis.. Ikut bahagia akhirnya bisa nyusul suami juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa baaraka 'alaik mba Alfath. Terima kasih banyak mba :) Semoga Allah mudahkan langkah-langkah kita ya

      Hapus
  2. Luar Biasa, Din.. tetap semangat ya.. 😉

    BalasHapus
  3. MaasyaaAllaah mba din.. Sehat selalu dan sukses buat mba Din serta suami 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin yaa Rabb, terima kasih do'anya yah. Smg km juga sehat selalu :)

      Hapus
  4. Pengalaman yang menarik sekali mbak. Btw saya juga sedang mempelajari prosedur RF ini.
    Kalo boleh tau apakah suami mbak Annisa sebelum mengajukan RF sudah tinggal lebih dahulu di Perancis min 18 bulan?
    Karena kalo tdk salah itu syarat awal utk mengajukan RF, apa benar mbak ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, terima kasih sudah membaca tulisan sy, semoga bs jd gambaran ya :). Betul, itu sbg syarat utama. Dulu saat mengajukan RF, suami sy sudah lebih dulu tinggal di Prancis selama 3 tahun.

      Hapus

Posting Komentar